Welcome to Bali India FoundationSelamat Datang Di Bali India FoundationBali India FoundationFasilitasFoto GaleriLokasiKontak Kami
Informasi Yoga
Yoga Untuk Semua
Meditasi
OM Dalam Meditasi
Patanjali & Hathayoga
Gerakan / Pose Yoga
Kundalini & Patanjali
Yoga & Filsafat
Program Kelas Yoga
Jadwal Kelas
Program Kursus
Syarat & Ketentuan
 
 
 
 
 
 

• YOGA UNTUK SEMUA

Sebuah jalan pendukung kehidupan fisik dan  Mental

  1. PATANJALI YOGA

Patanjali yoga sutra sebuah buku teks tentang filsafat yoga yang ditulis oleh Yogi Patanjali, memiliki empat bagian yaitu

  1. Pengertian tentang yoga itu sendiri
  2. Cara melakukan yoga
  3. Hasil yang didapat melalui latihan yoga
  4. Cara merealisasikan diri dengan jalan yoga

• PENGERTIANYOGA

Yoga secara harfiah berasal dari suku kata “yuj” yang memiliki arti menyatukan atau  menghubungkan diri dengan Tuhan. Kemudian Patanjali Memberikan Definisi tentang yoga yaitu mengendalikan gerak-gerak pikiran.  Ada dua hal yang penting sebagai seorang praktisi yoga adalah melatih secara terus menerus sekaligus tidak terikat dengan hal-hal duniawi.

Dengan kedua cara inilah sesorang bisa mencapai keberhasilan dalam latihan yoga. 

Kemudian Cara Melakukan Yoga yang dibahas oleh patanjali yaitu adalah delapan tahap yang disebut dengan

Astangga Yoga yaitu YAMA (pengendalian), NYAMA (peraturan-peraturan), ASANA (sikap tubuh), PRANAYAMA (latihan pernafasan), PATAYAHARA (menarik semua indrinya kedalam), DHARANA (telah memutuskan untuk memusatkan diri dengan Tuhan), DHYANA (mulai meditasi dan merenungkan diri serta nama Tuhan), dan SAMADHI (telah mendekatkan diri, menyatu/kesendirian yang sempurna/merialisasikan diri).

 

• Yoga Bersifat Universal

Jauh Dari Pengaruh Agama, Sekte, ataupun Kelompok Tertentu

Sampai sekarang para sarjana India ataupun Barat hanya bisa mengatakan bahwa yoga sudah ada semenjak 5000 tahun SM.  Dimana patanjali telah menyusun yoga sutra sekaligus sebagai pendiri filsafat yoga.

Beliau diperkirakan pernah hidup disekitar Kashmir walaupun tidak ada bukti yang otentik menyebutkan hal tersebut dalam tulisan-tulisan.  Dalam patanjali yoga, latihan yoga disusun secara sistematis dengan tahapan-tahapan sebagai berikut.

YAMA DAN NYAMA (Etika Dan Moral Yang Bersifat Universal)
Konsep yama dan nyama merupakan konsep etika dan moral yang bersifat universal. Dimana patanjali menekankan Yama yang bisa berarti menahan, mengontrol, menguasai. Adapun 5 dasar etika dalam yoga yang disebut dengan Yama sebagi berikut.

  1. Tanpa kekerasan
  2. Kebenaran
  3. Tidak mencuri
  4. Mengendalikan nafsu dan indriya
  5. Hidup sederhana (tidak mengumpulkan sesuatu lebih dari keperluan)

Kemudian adapun bagina-bagian NYAMA (aturan-aturan moralitas)

  1. Kebersihan luar dan dalam
  2. Selalu sabar
  3. Suka bekerja keras
  4. Membaca buku-buku yang bermanfaat
  5. Selalu merenungkan kebesaran Tuhan sesuai dengan kepercayaan

Jelaslah disini bahwa Patanjali memperkenalkan yoga dengan mempertimbangkan yoga sebagai sesuatu yang bisa diaplikasikan dimanapun dan kepada siapapun, dan bisa menjadi milik siapapun juga demi terciptanya keharmonisan dan kedamaian di seluruh dunia. Dari ide-ide moralitas dan etika di atas beberapa tokoh dunia  pernah memegang dan mengembangkan konsep ini seperti contohnya Mahatma Gandhi memperjuangkan hidup tanpa kekerasan. Demikian juga seorang filsuf barat tolstoy juga memperjuangkan konsep hidup tanpa kekarasan ini.

Mengenai asana/gerakan-gerakan yang membantu kesehatan manusia, Patanjali sendiri hanya memberikan definisi, sikap duduk yang stabil dan nyaman adalah asana. Patanjali sendiri sama sekali tidak membahas nama-nama asana maupun teknik asana tertentu dalam sutra-sutra Patanjali. Hal yang sangat menarik bahwa Patanjali sebagai seorang filusuf maupun Yogi, mempersilahkan masyarakat membuat gerakan-gerakan selanjutnya yang dapat menyehatkan tubuh.

Konsep gerakan tersebut kemudian dikembangkan oleh 2 Yogi yaitu: Swatmaram dan Gheranda dalam 2 buku yaitu Hathayogapradipika dan Gheranda Samhita. Dalam kedua teks tersebut dijelaskan bahwa jumlah Asana yang paling penting adalah 82 gerakan, dan dari 82 gerakan tersebut dengan hanya mempraktikkan 32 gerakan dalam kehidupan sehari-hari sudahlah cukup. Gerakan-gerakan tersebut sebagian besar berdasarkan Gheranda Samhita. Dari ke-32 gerakan ini kemudian dipersempit lagi oleh beberapa text book seperti Hathayogapradipika menjadi 4 gerakan yang paling penting untuk kesehatan yaitu siddhasan, padmasan, bhadrasan dan singhasan.
 

• Apakah Suryanamaskar bagian dari yoga sutra Patanjali?

Di sini sangat jelas bahwa Suryanamaskar bukanlah bagian dari Yoga Sutra Patanjali maupun 2 teks yang lain yaitu Hathayogapradipika dan Gheranda Samhita. Sehingga bila Suryanamaskar mengganggu ketertiban masyarakat maupun keyakinan orang, bisa ditiadakan karena tidak mengacu pada 3 sumber di atas. Suryanamaskar yang diperkenalkan baru-baru ini, merupakan penggabungan dari 82 gerakan tersebut agar seorang praktisi yoga dapat memperoleh hidup sehat hanya dengan melakukan Suryanamaskar.

Sehingga 12 gerakan ini dipilih oleh seorang Yogi yang tidak memiliki sumber, untuk memudahkan melakukan ke-82 jenis gerakan tersebut. Kalimat-kalimat yang diperkenalkan dalam Suryanamaskar berjumlah 12, adalah sebagai berikut: Mitra (sahabat), Ravi (bercahaya), Surya (matahari yang bersinar sempurna), Bhanave (mencahayakan semua), Khaga (memberikan perlindungan kepada burung-burung), Pusne (membesarkan tanaman-tanaman di bumi dan mematangkannya), Hiranyagarbha (sebuah bola yang berwarna emas), Marica (sinar khusus matahari yang membesarkan sebuah pohon bernama marica), Aditya (cahaya yang pertama), Savitri (matahari yang baru terbit), Arka (sebuah sinar matahari yang membuat pohon-pohon memiliki air yang khusus), Bhaskara (yang bercahaya sempurna).

Yang merupakan nama-nama jenis cahaya matahari, yang membantu kesehatan semua makhluk hidup. Sehingga praktisi yoga pada saat melakukan yoga di pagi hari bisa melakukan yoga saat terbitnya matahari. Ke-12 kalimat yang diucapkan saat melakukan Suryanamaskar saat pagi hari ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan agama Hindu maupun teknik-teknik orang Hindu yang pada saat melakukan pemujaan terhadap matahari umumnya diperlukan sarana seperti contoh masyarakat India memberikan penghormatan atau memuja pada matahari dengan menggunakan air, sedangkan di Bali melakukan Nyuryasewana dilengkapi dengan sajen-sajen tertentu.

Sehingga bila ada seseorang mempertanyakan hubungan Suryanamaskar dengan cara yoga dan pemujaan terhadap matahari di beberapa tradisi Hindu sangatlah berbeda. Oleh karena itu bilamana Suryanamaskar diikutsertakan dalam gerakan dalam yoga tentunya bebas dari ritual maupun mantra-mantra tersebut. Dan 12 kalimat yang tercantum dan tidak ada sumbernya bila diartikan hanyalah sebagai penghormatan terhadap 12 jenis nama cahaya matahari untuk tujuan kesehatan sehingga untuk menghilangkan kesan berbau agama tertentu 12 kalimat Suryanamaskar bisa ditiadakan dan hanya fokus pada gerakan badan dan pernafasan.

Gerakan/asana yang diperkenalkan oleh para guru-guru yoga yang tidak mengacu pada 2 buku yaitu Hathayogapradipika dan Gheranda Samhita yang berjumlah 82 gerakan, kemudian disingkat menjadi 32 gerakan ini, mempunyai perbedaan teknik serta perbedaan nama dengan yoga-yoga yang ada di dunia ini. Oleh karena itu sangat jelas bahwa konsep Patanjali sangat sederhana yaitu sikap badan yang stabil dan nyaman adalah Asana. Dan Patanjali tidak menutup kemungkinan bagi orang-orang yang ingin mengurangi maupun menambahkan gerakan-gerakan ini sesuai dengan kondisi tempat dan waktu. Sehingga Suryanamaskar merupakan kreasi yang baru.

Asana dan Pranayama
Patanjali memberikan definisi latihan prana atau energi vital yang dibutuhkan oleh setiap individu untuk hidup sehat. Ia hanya memperkenalkan 4 teknik pernafasan yang berguna untuk kesehatan yaitu:

  1. Menarik dan menahan nafas
  2. Mengeluarkan nafas dan menahan nafas
  3. Menahan nafas seketika
  4. Menahan saat nafas keluar dan juga tahan nafas yang ada di dalam

Empat pranayama ini kemudian dikembangkan oleh para Yogi dalam beberapa buku seperti Gheranda Samhita dan Hathayogapradipika, yang menjadi 8 jenis Pranayama.

• APAKAH ADA DOA ATAU MANTRA DALAM PRANAYAMA? 

Patanjali maupun teks-teks yang otentik sama sekali tidak memperkenalkan mantra-mantra atau doa-doa maupun kalimat-kalimat tertentu yang harus diucapkan saat melakukan latihan fisik yoga atau asana hingga nama-nama dalam gerakan badan tersebut menggunakan bahasa Sansekerta walaupun seperti padmasana yaitu bentuk gerakan badan seperti teratai, ustrasan: diambil dari onta, gomukhasan: diambil dari gerakan sapi, Sarpasan: diambil dari ular, Dhanurasan: diambil dari bentuk busur, oleh karena itu latihan fisik yang terdapat dalam teks-teks otentik yoga tidak memperkenalkan doa atau mantra kepada siapapun. Demikian pula gerakan tersebut tidak ada kaitan atau mewakili Dewa maupun, ataupun bentuk pemujaan tertentu melainkan murni merupakan latihan fisik untuk hidup sehat.

• APAKAH GERAKAN-GERAKAN YOGA / PRANAYAMA INI ADA DALAM BUKU SUCI HINDU ATAU PADA BUKU WEDA?

  Teknik gerakan asana maupun pranayama tidak tertulis pada Weda. Tidak ada satu mantra yang tertulis pada keempat Weda terutama asana maupun pranayama sehingga sangat jelas yoga merupakan sebuah metode untuk hidup sehat yang bisa diterapkan oleh siapa saja. Delapan jenis pranayama ini bertujuan untuk melatih pernafasan yang merupakan kunci hidup sehat. Tanpa latihan pernafasan tidak seorangpun di dunia ini mampu mengendalikan pikiran. Filsafat pranayama adalah semakin manusia belajar teknik pernafasan, nafas semakin panjang dan dalam yang berjumlah 21.600 kali dalam 24 jam. Bila manusia bernafas lebih cepat maka lebih mudah terserang penyakit dan dapat mengurangi umur. Jika bernafas panjang dan dalam maka hidup akan lebih sehat dan tentunya akan berumur panjang.

• APAKAH PADA SAAT MELAKUKAN PRANAYAMA ADA DOA ATAU MANTRA-MANTRA TERTENTU?

Dalam 4 teknik pernafasan yang diperkenalkan Patanjali sama sekali tidak menyebutkan kalimat-kalimat tertentu yang diucapkan, namun dalam teks-teks lainnya seperti Geranda Samhita dan Hathayogapradipika dijelaskan bahwa nafas manusiapun mengeluarkan sebuah kata. Pada saat manusia menarik nafas mengeluarkan suara SO, dan saat mengeluarkan nafas berbunyi HAM. Dalam bahasa Sansekerta SO berarti energi kosmik, dan HAM berarti diri sendiri (saya). Ini berarti setiap detik manusia mengingat diri dan energi kosmik. Anda bisa mengeceknya dengan nafas anda sendiri, apakah pada saat menarik nafas mengeluarkan suara SO dan HAM pada saat mengeluarkan nafas? Dalam teks Gheranda Samhita suara tersebut tidak termasuk dalam kategori mantra karena mantra harus terdiri dari dua baris, dan beberapa kalimat memiliki irama dan susunan kalimat yang sempurna dengan tujuan pemujaan kepada Dewa tertentu.