Patanjali menulis Sutra dan memberikan penjelasan bahwa, setelah manusia membersihkan badan maupun pikiran perlu melakukan perenungan kepada Tuhan. Ia memberikan nama Tuhan dengan sebutan Pranava. Menurut kamus Sansekerta-Inggris, Pranava memiliki arti: Prakristen Niyate Iti Pranavah, yaitu sesuatu energi yang membawa ke Tuhan. Dalam artian di sini manusia perlu untuk berdialog/bersembahyang/memuja nama-nama Tuhan dengan kesucian hati dan diri (Nama Tuhan yang dimaksud adalah nama Tuhan dari kepercayaannya masing-masing)
Di sini sangat jelas bahwa Patanjali tidak menulis langsung nama Tuhan dengan kata OM, melainkan dengan kata Pranava. Oleh karena itu sejak awal Patanjali sangat berhati-hati agar terminologi kata-kata yang digunakan dalam Patanjali bersifat universal, bukan untuk agama tertentu. Untuk memudahkan konsentrasi renungkanlah nama-nama Tuhan menurut kepercayaan masing-masing. Dan satu hal yang sangat perlu untuk diketahui bahwa terminologi tentang nama-nama Tuhan saat munculnya yoga dan kemudian hari munculnya agama-agama tertentu di India terjadilah perbedaan.
Demikian juga agama-agama yang muncul di luar India.
Seandainya kita menerima yoga paling sedikit 5000 tahun yang lalu kita akan mengetahui agama/kepercayaan yang muncul setelah yoga membuat terminologi-terminologi baru yang diwarisi hingga kini. Para sarjana perlu mempertimbangkan perbedaan waktu antara kemunculan agama dan kemunculan yoga itu sendiri.
Tujuan meditasi
Saat manusia berhasil dalam meditasi dengan memfokuskan diri kepada Tuhan, saat itulah kebijaksanaan (wisdom) yang benar muncul dalam diri seorang praktisi yoga. Kebijaksanaan ini menjadi keberhasilan seorang Yogi. Dan saat itu ia selalu berbicara, berbuat, dan berpikir yang benar. Sehingga pada akhirnya melalui jalan yoga ia dapat merealisasikan dirinya. Ketika kita dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam diri sendiri. Seperti misalnya ; Siapakah saya? Dari manakah saya? Apakah tujuan saya? Bagaimana terjadinya alam? Dan lain sebagainya.
Pencapaian kesempurnaan
Patanjali mempergunakan kata Kaivalya yang artinya kesempurnaan merealisasikan diri. Dan pada akhirnya manusia telah merealisasikan ke sindrom yang sempurna sebagai sendiri dan pisah dari alam semesta.
Apa hubungan yoga dengan agama Hindu?
Kata Hindu tidak ditemukan dalam 4 buku suci agama Hindu yang disebut Veda. Di dalam Veda itu sendiri ditemukan nama pengikut Veda yang disebut Arya, Vaidika, dan Sanatan Dharma. Dalam 4 Veda itu sendiri konsep Patanjali tentang keseluruhan yoga tidak dibahas/tidak ditemukan di dalam Veda. Walaupun ditemukan kata Yoga tapi sama sekali tidak ada hubungan dengan Sutra-sutra Patanjali.
Bagi mereka yang menjadi pengikut Weda disebut rsi (rishi), sedangkan bagi mereka yang mempelajari Yoga disebut yogi. Teks buku Nirvta yang ditulis oleh Yaska, bahwa rsi adalah yang menerima mantra-mantra Weda. Dari sini telah jelas terbukti bahwa Patanjali adalah seorang Yogi yang mempraktikkan metode yoga dan disebut sebagai Yogi, yang tidak harus mempelajari Weda. Namun seorang Yogi perlu untuk mempelajari semua pengetahuan untuk kebijaksanaan dirinya.
Hal yang kedua dalam buku-buku Weda dan filsafat India yang sampai sekarang memperkenalkan terminologi moksa dan surga sebagai tujuan akhir manusia. Akan tetapi kedua nama tersebut baik moksa maupun surga tidak ditemukan dalam sutra Patanjali, melainkan ia memilih Kaivalyasebagai tujuan pencapaian kesempurnaan. Berarti di sini yoga memiliki terminologi sendiri. Arti Kaivalya adalah mengetahui kepribadian diri sendiri yang sempurna/telah pisah dari alam semesta.
APAKAH YOGA MEMILIKI RITUAL TERTENTU YANG BERKAITAN DENGAN AGAMA TERTENTU?
Patanjali dalam Yoga Sutra sama sekali tidak menyebutkan jenis mantra, sarana-sarana ritual ataupun teknik-teknik tertentu untuk memuja Tuhan. Melainkan ia hanya memperkenalkan meditasi yaitu merenungkan nama-nama Tuhan dalam bentuk abstrak sesuai dengan kepercayaan. Tidak pada Dewa-Dewi tertentu ataupun idola-idola tertentu.
Oleh karena itu ritual-ritual yang berkembang dalam agama tertentu tidak menjadi bahan pembicaraan, Sutra-sutra tertentu, melainkan justru ia membebaskan dari segala ritual yang ada. Yoga bisa dilakukan dengan cara sederhana hanya dengan menggunakan alas/tikar saja.
Kemungkinan besar kita memerlukan suatu penelitian yang lebih dalam apakah agama Hindu mengambil beberapa teknik yoga seperti contoh Padmasana, sebagai posisi duduk berbentuk teratai (lotus). Hal yang perlu dijelaskan bahwa teknik Padmasana yang digunakan dalam Agama Hindu dan teknik yang terdapat dalam Hathayogapradipika memiliki perbedaan. Padmasana bertujuan agar terhindar dari berbagai penyakit.
Patanjali adalah seorang Yogi yang mensinkronisasikan konsep-konsep yoga dan kemudian mendirikan sebuah filsafat. Akan tetapi konsep-konsep Patanjali yang diperkenalkan seperti asana, pranayama, dan meditasi kemudian hari dikembangkan masing-masing aliran atau sekte yang pernah ada dalam sejarah India. Sehingga kemudian hari sebagian yoga juga diikutsertakan dan dikembangkan oleh sekte-sekte tersebut.
Dan sebagai hasilnya agama Hindupun mengadopsi yoga dalam beberapa kehidupan sehari-hari. Sehingga yoga berkembang dalam 2 jalur. Jalur pertama secara ilmiah, logika, dan filsafat kehidupan. Sedangkan jalur kedua yoga juga diadopsi sebagian teknik-tekniknya oleh agama Hindu sebagai praktik religious bagi umat Hindu. Sampai sekarang hal ini bisa kita lihat bahwa perkembangan yoga di India di satu sisi masuk ke dalam universitas. Bahkan telah didirikan universitas maupun institut-institut yoga sejak kemerdekaan India.
Selain itu ashram-ashram yoga yang keberadaannya telah berusia ribuan tahun sebagai contoh di suatu tempat di pegunungan Himalaya Guru Sri Rama yaitu Vasishta pernah memberikan pelajaran yoga pada Sri Rama (tokoh Ramayana) dan tempat itu masih utuh di gunung Himalaya hingga kini. Sehingga beberapa universitas di India memiliki departemen yoga yang mengeluarkan ijasah S1,S2, dan S3 serta diploma-diploma lainnya. Jalur kedua, yoga masuk/diadopsi oleh sekte-sekte agama Hindu. Filsafat Patanjali bisa diadopsi oleh siapa saja karena bersifat sangat universal karena bebas dari ritual-ritual agama tertentu.
Demikian juga keuniversalan Yoga yang bisa terlihat dalam Veda tapi juga bisa diihat dari perubahan konsep Yoga dalam sekte-sekte agama Hindu tertentu. Seperti contoh; konsep Yoga yang ada dalam Veda sangat dekat dengan ke universalan. Pengaruh serta konsep Yoga sangat mempengaruhi bagi para Rsi juga dalam Veda atau dalam perkembangan agama Hindu di kemudaian hari.
Para Rsi dalam Veda itu sendiri mempergunakan teknik yoga utuk membaca mantera-mantera dalam meditasi mereka. Sehingga sangat jelas yoga menjadi sebuah metode baik dari para Rsi dalam ke 4 Veda maupun para Rsi dalam Upanisada dan juga ke 5 filsafat India yang lainnya. Melalui konsep yoga juga para Rsi melihat mantera-mantera kemudian barulah mantera-mantera itu diajarkan kepada para murid-muridnya dan akhirnya tersusun menjadi 4 Veda.
Sehingga konsep yoga sebelumnya sudah ada sebelum 4 Veda diterima oleh para Rsi yaitu Agni menerima Rigveda, Vayu menerima Yajurveda, Aditya menerima Samveda dan Ansiras menerima Atharveda. Penerima keempat Veda yang sekarang menjadi buku Hindu juga memiliki metode yoga untuk melahirkan Veda yang kita temukan sekarang. Oleh karena itu konsep yoga sudah ada sebelum Veda.
Sekarang kita perlu melihat secara biijak bahwa Yoga diterima oleh masing2 Rsi atau sarjana untuk memperkenalkan konsep masing-masing. Demikian juga siapapun dari agama apapun juga bisa menerima yoga untuk menjalankan atau memperkenalkan konsep-konsep yang baik yang ada dalam dunia ini. |